Pages

Sabtu, 17 Desember 2011

DI MANA ISLAM?

Di Jepang yang penduduknya mayoritas  penganut Shinto atau atheis, para pejabat dan rakyatnya memiliki rasa malu.
Bila berbuat salah langsung menghukum dirinya sendiri. Tidak membiarkan sampai orang lain menegur atau marah.
Sikap hidup yang menjunjung rasa malu ini sudah menjadi habit (kebiasaan). Malu berbuat salah, khususnya pejabat. Bila merasa gagal dalam pekerjaan atau tugasnya, langsung melakukan hukuman terhadap dirinya.
Sudah berapa banyak pejabat tinggi Jepang yang mengundurkan diri? Karena ia merasa bersalah, dan gagal. Perdana Menteri, Menteri, dan pejabat-pejabat Jepang, yang merasa bersalah dan gagal, langsung mengundurkan diri.
Seperti ketika terjadi tsunami belum lama, dan berdampak terhadap reaktor nuklir Jepang, langsung pejabat setingkat menteri yang bertanggung jawab dibidang itu, memilih mengundurkan diri.
Sampai-sampai ada yang melakukan bunuh diri, karena merasa malu atas kesalahan yang mereka lakukan. Begitu tinggi rasa malu mereka. Anak sekolah yang tidak lulus, dan gagal ujian, ada diantara mereka yang bunuh diri.
Sikap hidup orang-orang Jepang yang menjunjung tinggi rasa malu itu, menghasilkan sebuah jalan hidup yang mengubah keterpurukan bangsa Jepang pasca Perang Dunia II, dan sekarang menjadi negara industri maju.
Di Korea Selatan, di ibukota Seoul rasanya sangat sulit mencari sampah di jalan-jalan. Kotanya apik dan bersih. Sebersih-bersihnya. Setiap orang ke mana-mana membawa kantong yang digunakan menyimpan sampah, dan dibuang di tempat-tempat yang sudah disediakan.
Orang-orang Korea Selatan yang makan di restoran, mereka membersihkan sisa-sisa makanan mereka dan kotoran yang ada piring-piring mereka. Tidak perlu menunggu pelayan datang membersihkan kotoran atau sisa makanan mereka. Ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari di Korea.
Tentu, lebih penting lagi dari semuanya itu, hukum ditegakkan seadil-adilnya. Anak seorang perdana menteri yang terlibat dalam bisnis dan menerima sogokkan dari Cheibol (konglomerat), dipenjara. Tidak dilindungi. Itu terjadi atas anak Perdana Menteri Kim Dae Jung, yang anaknya dipenjara, karena menerima uang dari konglomerat.
Bukan hanya itu, Perdana Menteri Chun Do Hwan, juga dijatuhi hukuman, karena dituduh korupsi. Hukum ditegakkan bagi siapa saja. Kehidupan menjadi lebih tertib. Kepercayaan terhadap pemerintah kuat, karena adanya hukum yang tegak. Terhadap siapa saja. Mereka yang  salah dihukum. Tidak lantas dilindungi. Setiap warga negera memiliki kesamaan dalam hukum.

Karena itu, Korea Selatan menjadi maju, makmur dan kehidupan berlangsung dengan tertib, bersih. Bukan hanya dalam bentuk pisik, tetapi kehidupan tegak diatas sendi-sendi yang diatur dengan hukum.
Belum lama, seorang mantan Presiden Perancis Jaques Chirac, yang dinyatakan bersalah, dan dijatuhi hukuman dua tahun oleh pengadilan Perancis. Chirac dinyatakan bersalah oleh pengadilan, karena sewaktu menjadi walikota menggunakan dana publik untuk kepentingan partai dan pemilu. Lantas pengadilan menghukumnya.
Kemudian, bandingkan dengan Indonesia, yang 240 juta penduduknya mayoritas penganut Islam, kehidupannya sangat kotor. Bukan hanya sampah berserak di mana-mana sepanjang jalan, di sungai-sungai, dan di sembarang tempat,  tetapi kehidupan manusianya sangat kotor.
Memakan makanan dari sumber yang haram. Dari hasil korupsi, menipu, merampok, berdusta, dan berbagai cara lainnya, yang sangat tidak layak. Segala yang diharamkan oleh Allah  dihalalkan. Mereka tidak pernah merasa bersalah atas segala perbuatannya. Mereka menikmati hasil perbuatannya itu.
Belum ada pejabat Indonesia yang mengundurkan diri dari jabatannya sepanjang sejarah pemerintahan di Indonesia, dan merasa bersalah.
Berapa kali kapal tenggelam? Berapa kali pesawat jatuh? Berapa kali kereta api tabrakan? Berapa banyak musibah? Tidak ada pejabat yang mengundurkan diri. Semuanya dapat hidup dengan nyawan.
Belum lama ini, jembatan yang baru dibangun runtuh. Banyak korban rakyat, akibat dari faktor "human error", tetapi tidak ada yang merasa bertanggung jawab. Justeru mereka membela diri, dan tidak pernah merasa bersalah.
Mereka yang sudah jelas-jelas terlibat dalam korupsi masih tetap duduk dalam pemerintahan. Tidak malu. Tidak ada tanggung jawab moral (moral responsbility). Tetap menikmati jabatannya dengan fasilitas jabatan  dan gaji. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Semuanya itu, karena mereka sudah kehilangan "sense of humanity", serta hati nurani.
Malah orang-orang yang terlibat dalam berbagai kejahatan, khususnya yang merugikan rakyat banyak, malah pura-pura sakit, dan dirawat di rumah sakit, sampai rakyat lupa peristiwanya sendiri.
Gejala ini menjadi fakta-fakta kehidupan di lingkungan bangsa Indonesia, khususnya para pejabat dan orang-orang yang mempunyai relasi dengan kekuasaan.
Kasus yang merupakan mega korupsi yang melibatkan tokoh partai politik, yang kebetulan berkuasa, akhirnya kasusnya di pengadilan hanya sebagai "gratifikasi", sangat sederhana sekali. Mungkin hukumannya sangat ringan.
Sebuah sandiwara yang sangat luar biasa. Ini sebuah drama kehidupan di Indonesia. Drama yang skenarionya sudah disiapkan sejak semula. Melindungi para koruptor dan para pejahat berkerah putih.
Sehingga, kejahatan di Indonesia yang terkait dengan korupsi yang melibatkan berbagai kalangan, termasuk kekuasaan itu, tidak pernah sampai terkuak.
Padahal mayoritas  penduduk Indonesia menganut agama Islam. Lalu di mana Islam? Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallahui alaihi wassalam itu?
Atau mungkin Islam sudah tidak ada lagi di Indonesia? Hanya tinggal nama saja.

SUMBER : http://www.eramuslim.com/editorial/di-mana-islam.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar