Dan orang-orang yang kafir, maka
kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang
demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang
diturunkan Allah (Alquran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala)
amal-amal mereka (TQS Muhammad [47]: 8-9).
Alquran diturunkan sebagai petunjuk dari Allah SWTbagi manusia dalam
menjalani kehidupannya. Barangsiapa yang mengimani dan mengamalkannya
secara kaffah, kebahagiaan di dunia dan akhirat akan didapat.
Sebaliknya, siapa pun yang mengingkari, apalagi membencinya, akan
mengalami nasib menyedihkan.
Ayat ini adalah di antara yang memberitakan nasib yang dialami kaum kafir yang membenci Alquran.
Celaka dan Disesatkan Amalnya
Allah SWT berfirman:
Wa al-ladzîna kafarû fata’s[an] lahum(dan
orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka).Dalam ayat
sebelumnya diberitakan mengenai balasan dan anugerah bagi orang-orang
yang mau menolong agama-Nya. Allah SWTakan menolong dan meneguhkan
kedudukanorang-orang yang menolong agama-Nya. Yakni orang-orang yang
bersedia tunduk, terikat, dan mengamalkan perintah dan larangan-Nya.
Kemudian dalam ayat ini diberitakan mengenai nasib orang-orang yang bersikap sebaliknya:
al-ladzîna kafarû. Yakni orang-orang yang mengingkari sebagian atau seluruh perkara keimanan. Balasan yang bakal mereka terima adalah:
fata’s[an] lahum.
Menurut al-Syaukanidan al-Qinuji, makna asal kata
al-ta’s adalah
al-inhithâth wa al-‘itsâr (kemerosotan
dan kebinasaan). Dalam konteks ayat ini, ada beberapa penafsiran yang
dikemukakan oleh ulama. Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Juraij menafsirkannya
bu’d[an] lahum (menjadi laknat terhadap mereka). Menurut al-Sudi,
khuzn[an] lahum (kesedihan bagi mereka). Ibnu Zaid berkata,
syaqâ`[an] lahum (kesengsaraan dan kemalangan bagi mereka). Al-Hasan memaknainya sebagai
syatm[an] lahum minal-Lâh (cacian dari Allah kepada mereka)
. Tsa’lab mengartikannya
halâk[an] lahum (kehancuran, kebinasaan bagi mereka). Al-Dhahhak berkata,
khaybat[an] lahum (kegagalan
bagi mereka). Demikian pemaparan al-Qurthubi dalam tafsirnya. Ibnu
Jarir al-Thabari menggabungkan beberapa panfsiran tersebut, yakni
hizy[an] lahum wa syaqâ` wa balâ` (kehinaan, kesengsaraan, dan bencana bagi mereka).
Kata
al-ta’s juga digunakan dalam sabda Rasulullah SAW:
Ta’isu ‘abd al-dînâr wa al-dirhâm wa al-qathîfah wa al-khamîshah, in u’thiya radhiya wa in lam yu’thâ lam yardha (kecelakaan
bagi hamba dinar, dirham, sutra, dan gamis. Apabila diberi, dia ridha.
Dan apabila tidak diberi, dia tidak ridha, HR al-Bukhari dan Ibnu Majah
dari Abu Hurairah).
Dijelaskan Fakhruddin al-Razi dalam
Mafâtîh al-Ghayb, ayat ini merupakan tambahan untuk menguatkan hati kaum Mukmin. Ketika dalam ayat sebelumnya disebutkan:
wa yutsabbit aqdâmahum (dan
Dia meneguhkan kedudukanmu), maka ada kemungkinan muncul anggapan bahwa
orang kafir bisajatuh dan teguhuntuk beperang. Sehingga dalam
peperangan, terjadi saling bunuh, saling serang, saling tikam, dan
saling pukul. Maka muncullah kesulitan besar. Kemudian Allah SWT
menegaskan bahwa kalian (orang-orang Mukmin) memiliki keteguhan.
Sebaliknya mereka (orang-orang kafir) itu musnah, berubah, dan binasa,
sehingga tidak ada keteguhan mereka. Penyebabnya jelas, tuhan-tuhan
mereka adalah benda mati yang tidak mempunyai kekuatan dan kemampuan
berhadapan dengan Dzat yang memiliki kekuatan. Maka tuhan-tuhan mereka
itu tidak berguna untuk mencegah dan membatalkan keputusan Allah SWT
atas mereka, yakni kehancuran.
Di samping itu juga:
Wa adhalla a’mâlahum (dan Allah menyesatkan amal-amal mereka). Kata
al-dhalâl berarti
al-‘udûl ‘an al-tharîq al-mustaqîm (menyimpang dari jalan yang lurus). Kebalikannya adalah
al-hidâyah (petunjuk). Demikian al-Raghib al-Asfagani. Menurut Ibnu Jarir al-Thabari, frasa ini berarti
Allah
menjadikan amal mereka dilakukan tapa petunjuk dan istiqamah. Sebab,
amal mereka dilakukan karena ketaatan terhadap syetan. Bukan ketaatan
kepada al-rahman.Al-Syaukani dan al-Jaiziri menafsirkan frasa ini sebagai
abthlahâ waja’alahâ dhâi’at[an] (menjadikannya sia-sia dan lenyap).
Dikemukakan Fakhruddin a-Razi, ayat ini memberikan isyarat yang
menjelaskan tentang perbedaan nasib orang-orang kafir yang telah mati
dengan orang-orang Mukmin yang terbunuh (dalam medan peperangan).
Mengenai orang-orang Mukmin tersebut,Allah SWT berfirman:
Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka (TQS Muhammad [47]: 4). Sedangkan terhadap orang-orang kafir yang mati, Allah SWT menghapus dan melenyapkan semua amalnya.
Karena Membenci Alquran
Setelah diberitakan mengenai hukuman bagi kaum
kafir, dalam ayat berikutnya dijelaskan perkara yang menjadi
penyebabnya. Allah SWT berfirman:
Dzâlika bi annahum karihû mâ anzalal-Lâh lahum (yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah [Alquran]). Kata
dzâlikamerupakan
isyârah yang merujuk kepada kalimat sebelumnya, yakni kecelakaan dan lenyapnya amal orang-orang kafir. Sedangkan frasa
bi annahum memberikan makna sebab. Artinya, semua kejadian yang menimpa mereka itu disebabkan sikap mereka:
karihû mâ anzalal-Lâh lahum.
Menurut Ahmad Mukhtar dalam
Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, kata
kariha al-syakhsh fi’l al-sû` berarti
maqatahu, walam yuhibbuhu, abghadhahu (membenci dan tidak menyukainya). Sedangkan yang dimaksud dengan
mâanzalal-Lâh lahum dalam ayat ini adalah Alquran, beserta semua isinya, baik dalam perkara aqidah maupun syariah.
Telah maklum bahwa Alquran diturunkan sebagai
hud[an] (petunjuk),
syifâ` (obat)
, dan
rahmah (kasih sayang). Juga mengeluarkan manusia
min al-zhulumât ilâ al-nûr (dari
kegelapan menuju cahaya). Di dalam Alquran pula penjelasan haq dan
batil, halal dan haram, tata cara ibadah, dan sebagainaya. Pendek kata,
Alquran merupakan petunjuk hidup yang benar bagi seluruh manusia.
Oleh karena itu, ketika Alquran diingkari, apalagi dibenci,
pelakunyadipastikan tidak akan bisa mengerjakan ibadah dan amal shalih
lainnya dengan benar. Sebab ketentuan ibadah dan amal shalih bukan
berdasarkan akal, namun oleh syara’ yang bersumber dari Alquran.
Kebencian terhadap Alquran yang di dalamnya terdapat penjelasan
tentang tauhid, akan membuat pelakunya menegasikan tauhid dan lebih
memilih syirik. Sementara syirik menkadi penyebab terhapusnya pahala.
Allah SWT berfirman:
Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu(TQS al-Zumar [39]: 65).
Alquranjuga berisi berita tentang akhirat. Orang yang mengingkari dan
membencinya, tentulah tidak akan beramal untuk akhirat. Semuanya
dikerjakan untuk mengejar dan meraih kenikmatan dunia. Karena itu
dicari, maka wajar saja jika mereka tidak berhak mendapatkan bagian di
akhirat.
Allah SWT pun berfirman:
Faahbatha a’mâlahum(lalu Allah menghapuskan [pahala-pahala] amal-amal mereka). Kata
habitha al-‘amal berarti
habatha, fasada, bathala, dzahaba, suda[n] (terhapus, rusak, batal, lenyap, sia-sia
). Sehingga makna
ahbatha-Lâh al-‘amal adalah
Allah membatalkan dan melenyapkan pahalanya. Demikian penjelasan Ahmad
Mukhtar. Makna itu pula yang terdaapt dalam ayat ini.
Menurut al-Qinuji, yang dimaksud dengan amal di sini adalah amal yang
terlihat secara kasat mata sebagai amal kebaikan meskipun pada asalnya
tetap batil. Sebab, amal orang kafir tidak diterima sebelum keislaman
mereka. Tak jauh berbeda, al-Thabari juga menjelaskan bahwa Allah SWT
telah membatalkan amal yang mereka kerjakan di dunia. Ditegaskan pula
olehnya, ketentuan ini berlaku untuk semua orang kafir.
Mengenai terhapus dan sia-sianya amal perbuatan orang juga ditegaskan
dalam banyak ayat, seperti QS al-A’raf [7]: 147). Juga dalam al-Baqarah
[2]: 217, Ali Imran [3]: 21-22, al-Maidah [5]: 5 dan 53, al-An’am [6]:
88.
Demikianlah nasib yang menimpa kaum kafir. Mereka mendapatkan
kehinaan, kekalahan, kesengsaraan, dan penderitaan selama-lamanya. Semua
amal yang dikerjakan sia-sia, lenyap, dan tidak berguna sedikit pun
bagi mereka. Semua itu disebabkan karena kekufuran mereka, terutama
kebencian mereka terhadap Alquran beserta ajarannya, baik sebagian atau
seluruhnya.
Ancaman ayat ini seharusnya membuat para pengidap
Islam phobiasegera sadar
. Juga
mereka yang suka menyebarkan kebencian dan sikap antipati terhadap
Islam, syariah, jihad dengan makna yang sebenarnya (yakni perang di
jalan Allah), dan daulah khilafah seraya menuduh para pejuangnya sebagai
penganut radikalisme dan fundamentalisme, bahkan pelaku terorisme yang
harus dibasmi. Umat Islam haruswaspada dan tidak boleh terpedaya oleh
propaganda busuk mereka yang dapat menggelincirkan kita dan mengekor
sikap mereka yang benci terhadap Islam.
Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.
Ikhtisar:
1. Nasib orang kafir akan hina, celaka, dan sengsara. Amal mereka juga terhapus dan sia-sia.
2. Perkara yang menjadi penyebab penderitaan kaum kafir itu adalah kebencian mereka terhadap Alquran